Mengintip Grup B: Kenapa Thailand dan Malaysia Bikin John Herdman Harus Putar Otak Lebih Cepat?

Timnas Thailand Menjuarai Piala AFF

Grup B ASEAN Hyundai Cup 2026 bukan sekadar pelengkap. Thailand dan Malaysia siap saling sikut demi status juara grup. Mahrin Sultan membedah siapa yang paling berbahaya bagi Timnas Indonesia di semifinal nanti.

Sebagai pengamat, saya sering bilang kalau kita jangan terlalu asyik memelajari isi rumah sendiri sampai lupa melihat apa yang sedang dimasak oleh tetangga sebelah. Grup B adalah “kawah candradimuka” yang berisi sang juara bertahan Thailand dan rival emosional kita, Malaysia.

Berikut adalah ulasan mendalam saya mengenai peta persaingan di Grup B yang bakal menjadi calon lawan kita di semifinal nanti.

Grup B: Panggung Para Penguasa Tradisional

Sesaat setelah bola undian terakhir diletakkan pada 15 Januari kemarin, mata saya langsung tertuju pada Grup B.

Di sana berkumpul sang raja sepak bola ASEAN, Thailand, bersama Malaysia yang selalu punya motivasi berlipat jika sudah bicara soal trofi regional.

Bagi kita pendukung Timnas Garuda, Grup B adalah laboratorium ulasan untuk memetakan siapa yang akan kita hadapi jika—dan semoga saja—kita lolos dari fase grup nanti.

Urgensinya jelas; kita tidak boleh hanya buta dengan kekuatan Vietnam di Grup A. Kita harus tahu seberapa tajam “taring” Harimau Malaya dan seberapa kokoh “tembok” Gajah Perang tahun ini.

Sebagai penulis, saya melihat Grup B kali ini menyimpan potensi kejutan yang bisa saja merusak skenario final ideal yang kita bayangkan.

Thailand: Masihkah Sang Gajah Jadi Penguasa Mutlak?

Berbicara soal Thailand adalah berbicara soal konsistensi dan standar tinggi. Mereka datang ke ASEAN Hyundai Cup 2026 sebagai juara bertahan yang belum menunjukkan tanda-tanda penurunan kualitas secara signifikan.

Secara taktik, Thailand adalah tim yang paling matang dalam hal sirkulasi bola dan pemahaman ruang, sesuatu yang menjadi pain point bagi tim-tim lain yang sering kali kocar-kacir menghadapi passing pendek mereka.

Namun, saya melihat ada sedikit celah yang bisa dimanfaatkan.

Generasi emas mereka mulai menua, dan proses regenerasi Thailand tidak secepat Indonesia akhir-akhir ini.

John Herdman pasti sudah mencatat ini; jika kita bertemu Thailand di semifinal, kecepatan transisi kita akan menjadi senjata untuk mengeksploitasi lini belakang mereka yang mulai melambat.

Malaysia: Harimau Malaya yang Selalu Haus Darah

Malaysia selalu menjadi lawan yang “tricky” dan penuh kejutan. Di bawah asuhan pelatih mereka saat ini, Malaysia bertransformasi menjadi tim yang sangat efektif dalam memanfaatkan situasi bola mati dan serangan balik cepat.

Mereka tidak butuh banyak peluang untuk mencetak gol, dan inilah yang membuat mereka sering kali menjadi momok bagi tim-tim yang terlalu asyik menyerang namun lupa menutup lubang di belakang.

Optimisme saya muncul saat melihat gaya main Malaysia yang cenderung mirip dengan tim-tim kasta menengah Eropa—fisik kuat dan disiplin.

Duel antara Thailand vs Malaysia di fase grup nanti akan menjadi tontonan wajib bagi staf kepelatihan Indonesia.

Kita perlu melihat bagaimana cara Malaysia meredam kreativitas Thailand, karena taktik itu bisa kita “curi” dan modifikasi jika nanti kita harus bertemu salah satu dari mereka.

Filipina dan Myanmar: Sang Kuda Hitam yang Mengintai

Jangan sekali-kali meremehkan Filipina dengan proyek naturalisasi pemain keturunan Eropa mereka yang tidak pernah berhenti.

Filipina adalah tim yang bisa mengalahkan siapa saja di hari terbaik mereka, terutama jika mereka bermain di kandang yang atmosfernya cukup unik.

Gaya main mereka sangat mengandalkan fisik dan duel-duel udara, sesuatu yang kadang membuat tim seperti Malaysia kerepotan.

Sementara itu, Myanmar tetap membawa semangat bermain yang cepat dan berani. Meskipun secara prestasi sedang naik-turun, Myanmar adalah tim yang “berisik” di lapangan; mereka akan mengejar bola hingga ke ujung lapangan tanpa lelah.

Saya menilai kehadiran Filipina dan Myanmar di Grup B akan membuat Thailand dan Malaysia tidak bisa bersantai sedikitpun jika tidak ingin terpeleset lebih awal.

Kenapa John Herdman Harus Mulai Memetakan Grup B?

Satu hal yang pasti, siapa pun yang keluar sebagai juara dan runner-up Grup B adalah lawan yang sangat berat di semifinal.

Jika Indonesia berhasil menjuarai Grup A, kita kemungkinan besar akan menghindari Thailand lebih awal (asumsi Thailand juara Grup B).

Tapi, bertemu Malaysia di semifinal juga bukan perkara mudah karena faktor tekanan mental dan sejarah rivalitas yang sangat kental.

Saya menganalisis bahwa Herdman adalah tipe pelatih yang sangat rajin melakukan scouting. Saya tidak akan heran jika ia mengirimkan asistennya untuk memantau langsung setiap pertandingan di Grup B.

Memahami karakter pelatih Thailand dan Malaysia sejak dini akan memberikan kita keuntungan waktu untuk menyiapkan kontra-strategi yang lebih matang dan presisi.

Mengintip Kekuatan Lawan demi Mimpi Juara

Pada akhirnya, untuk menjadi raja di ASEAN, kita harus siap menghadapi siapa saja, entah itu Thailand yang teknis atau Malaysia yang militan.

Grup B adalah cermin bagi kita untuk melihat sejauh mana level kompetisi di kawasan ini telah berkembang.

Sebagai pengamat, saya merasa persaingan tahun ini adalah yang paling merata dalam sejarah penyelenggaraan Piala AFF.

Mari kita terus pantau perkembangan dari tetangga sebelah sambil terus mematangkan persiapan skuad Garuda.

Jangan sampai kita terlalu fokus pada Vietnam, lalu terkejut dengan ledakan kekuatan dari Grup B di fase gugur.

Optimisme harus tetap dijaga, tapi kewaspadaan terhadap kekuatan Gajah Perang dan Harimau Malaya adalah harga mati jika kita ingin melihat merah-putih berkibar paling tinggi di podium juara.

Menurut kawan-kawan, kalau kita lolos ke semifinal, lebih baik kita ketemu Malaysia atau Thailand? Mana yang kira-kira lebih “enak” untuk dikalahkan secara taktik? Yuk, tulis opini kalian di kolom komentar!


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*